PUSTAKAWAN MELAWAN RAYAP

 on Rabu, 28 Februari 2024  

Siapa yang tak sedih jika melihat koleksi buku di rak ternyata disantap oleh rayap? Mungkin hanya orang-orang bodoh saja yang tak emosi ketika melihat koleksi buku kesayangan berlubang di sana-sini gara-gara di makan rayap. Apalagi jika kita sebagai seorang pustakawan, rasanya tidak ada gunanya kita cari ilmu tentang perpustakaan tapi di depan mata kita gagal melindungi karya tulis yang mengandung peradaban. Kalau begitu bagaimana kita bisa melawan rayap?

Hari ini, Rabu, tanggal 28 Februari 2024 aku mengikuti diklat tentang promosi perpustakaan berbasis digital yang dielenggarakan oleh perpustakaan nasional secara daring. Pada sela-sela materi disampaikan cara membuat blog dan vlog untuk promosi perpustakaan.

Rasanya seperti buntu mencari ide untuk mengisi blog dengan konten yang bermanfaat. Ideku seperti dimakan rayap. Lubang disana-sini. Untunglah saat istirahat tiba, aku teringat pengalaman pahit memiliki buku yang dimakan rayap.

Baiklah, akan aku bagikan pengalaman ketika merenungkan cara mengatasi rayap, lebih tepatnya membasmi rayap. Mungkin kalian akan segera mengira, penanganan yang tepat terhadap rayap adalah menggunakan pestisida. Benar, saat itu aku juga merenungkan pestisida. Bukan untuk bunuh diri, tapi untuk membasmi si rayap yang kurang ajar itu.

Apakah cukup dengan pestisida? Tentu tidak, masih ada langkah pencegahan pula. Ini malah lebih penting. Sebab penggunaan pestisida juga membahayakan tubuh kita. Lalu bagaimana aku mengawali kisah pahit ini?

FRUSTASI, GARA-GARA RAYAP

Sedih, frustasi, emosi, bingung itulah gambaran campur aduk ketika mataku tertuju pada lembaran buku yang rusak dimakan rayap. Rayap begitu vulgar merusak koleksi perpustakaanku. Kegagalan dalam pelestarian adalah kegagalan menjalankan fungsi perpustakaan. Ini menjadi refleksi diri bagi seorang pustakawan seperti aku.

Peringatan keras ini sengaja kutujukan pada diriku, sekaligus pada semua pustakawan yang saat ini sedang merawat koleksi perpustakaan, apalagi jika perpustakaan tersebut disinyalir mulai kedatangan rombongan rayap. Kalian harus hati-hati. Ini sebuah harga diri, meski hanya melawan rayap.

Beberapa metode penanganan rayap telah kutempuh. Salah satunya penggunaan pestisida. Ada pestisida alami yang kuracik melalui bahan kapur barus serta kamper khusus kertas. Lumayan, meski membantu dengan waktu yang pendek, namun sedikit menghalau rayap di rak buku.

Pestisida berikutnya adalah pestisida buatan, dimana kubeli melalui toko online. Bahan-bahan kimia yang tertulis dalam kaleng diyakini mampu menghalau rayap. Namun, aku sendiri cemas, sebab di kaleng juga tertulis peringatan bahwa bahan kimia yang terkandung adalah bahan kimia keras. Penggunaan harus sesuai petunjuk agar tidak membahayakan tubuh manusia.

PENCEGAHAN, PILIHAN TEPAT UNTUK RAYAP

Pengalaman ini menyadarkan aku bahwa diperlukan tindakan yang lebih efektif dan berkelanjutan untuk mengatasi masalah rayap. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan adalah:

  1. Keamanan, karena pencegahan lebih aman dibanding pengobatan atau penggunaan pestisida, maka pilihan pencegahan menjadi prioritas utama. Pestisida digunakan untuk rayap yang masih terlihat dan dilakukan satu kali dalam satu tahun.
  2. Efektivitas, bagaimana mengelola pencegahan rayap menjadi hal yang paling efektif, murah dan aman. Aman ini berarti buku sudah tidak dimakan rayap, dan rayap enggan kembali lagi
  3. Biaya, ini juga penting. Bisa dibayangkan jika biaya akan membengkak ketika pengendalian rayap tak dilakukan. Pencegahan lebih utama dibanding pengobatan. Preventive more important than kurative.
  4. Tindakan, jangan berdiam diri. Harus ada tindakan nyata. Sirkulasi udara terjaga. Kebersihan terjaga. Pencahayaan sinar matahari yang masuk juga perlu untuk mengatur kelembaban udara. Rayap biasanya suka kertas yang lama, lembab, dan tidak tertata.

PENCEGAHAN RAYAP

Karena pencegahan, maka upaya yang dilakukan bersifat rutinitas dan dispilin, yaitu:

  1. Jangan pakai kayu, ini pertama yang tersirat dalam perenunganku. Jangan pakai kayu untuk rak buku. Sebab kayu bisa mengundang rayap untuk singgah dan menetap di buku. Alternatifnya tentu besi dan aluminium, tapi kedua bahan ini terbilang mahal. Akhirnya, terbeli dengan cara bertahap, alias mengangsur.
  2. Merombak ruangan agar tetap terjaga kelembabannya. Tidak terlalu basah, banyaknya sinar matahari yang masuk bisa menjaga ruangan tetap kering. Kondisi seperti ini mampu mencegah kedatangan rayap.
  3. Pemeriksaan secara terjadwal dan ketat. Jika tidak dilakukan pemeriksaan kondisi buku dan rak, maka rayap akan leluasa beranak pinak di buku. Pemeriksaan juga dilakukan di kolong atau bagian paling bawah dari rak. Biasanya disana bersarang berbagai debu dan kotoran yang juga dapat mempercepat kerusakan buku.
  4. Gunakan kapur barus atau kamper untuk menghalau rayap datang ke rak buku. Sesekali boleh menggunakan semprot anti bakteri yang sering digunakan untuk mobil.
  5. Gunakan vacum cleaner jika memungkinkan. Debu juga menjadi momok bagi buku. Buku yang berdebu membuat jari tangan kita cepat menghitam dan tentu ini menjadi sarang penyakit yang membahayakan. Apakah perlu dibungkus plastik? Jika kadar debunya tinggi boleh juga memilih plastik sebagai penutup atau cover jajaran buku di rak. Tapi jika ada rak buku tertutup kaca itu akan menjadi pilihan yang paling tepat, tentu disesuaikan kemampuan keuangan.

MERAWAT JUGA PENTING

Merawat memang identik dengan alat bantu untuk perawatan. Sama dengan perawatan kecantikan, memerlukan kosmetik. Perawatan rumah juga memerlukan cat. Perawatan mobil memerlukan pembersih karat atau korosi. Jadi perawatan itu juga penting. Apa saja yang kulakukan dalam mearawat koleksi buku? Simak berikut ini:

  1. Gunakan bahan kimia anti rayap, meski berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan, tapi bahan kimia ini menjadi alat bantu utama dalam perawatan. Jika kalian menemukan bahan organik atau alami, maka bisa menjadi pilihan yang patut dijadikan alat bantu perawatan.
  2. Simpan buku dengan baik di rak yang tertutup maupun terjaga dari air, debu, serta api. Rayap menyukai bahan kertas yang lembab. Rayap bisa terbawa debu dan menempel di buku. Rayap merusak buku, tapi api juga bisa membakar buku menjadi arang.
  3. Konsultasikan dengan ahlinya, jika tak mampu dan tidak memiliki pengetahuan yang cukup dengan masalah rayap, ada baiknya temukan ahli rayap. Keluh kesah dengan ahli rayap akan memberi jawaban terhadap rayap.

KESIMPULAN

Masalah rayap adalah masalah genting bagi sebuah perpustakaan, pustaka, pustakawan dan pemustaka. Butuh penanganan serius. Butuh tindakan yang aktif namun efektif. Pencegahan, perawatan dan pembasmian rayap adalah tiga hal yang wajib dilakukan ketika menjumpai buku yang kita koleksi telah dilahap rayap.

Seorang pustakawan yang menyerah terhadap serangan rayap sejatinya telah mengubur harga dirinya bersama kepingan kertas yang dimakan rayap. Tak ada kata lain selain LAWAN!

Disini saya juga ingin membagikan video vlog dari youtube (channel Rifda NRF) :





J-Theme